BUTON UTARA-Sultra info.id

Sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di sudut Kelurahan Labuan, Kecamatan Wakorumba Utara, Buton Utara, kini tak ubahnya seperti monumen mati. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—yang digadang-gadang menjadi penyelamat nutrisi warga—kini justru diselimuti kesunyian.
Sejak rampung total pada akhir Februari 2026 lalu, aroma masakan bergizi yang dinanti-nanti tak pernah tercium. Jangankan beroperasi, menyalakan kompor pun belum pernah. Ironis, mengingat seluruh fasilitas pendukung telah siap 100 persen dan seluruh persyaratan administratif diklaim telah terpenuhi dengan matang.
Di balik dinding-dindingnya yang bisu, ternyata sedang berkecamuk polemik panas. Proyek unggulan ini mendadak macet total akibat adanya dugaan “main mata” dan keputusan sepihak dari pusat.
Hal ini dikatakan Adi Yanto Saputra(AYS) Pemilik dapur SPPG yang dirugikan tersebut, dalam keterangannya pada media sultra info.id, Minggu 28 Juni 2026 melalui via WhatsApp.
Pengusaha Lokal ‘Didepak’, Jakarta Ambil Alih
Berdasarkan informasi yang dihimpun, mandeknya operasional Dapur Gizi ini dipicu oleh pergantian mitra kerja secara sepihak. Pengusaha lokal Sulawesi Tenggara (Sultra) yang sejak awal berdarah-darah mengawal proyek ini, mendadak ditendang dari sirkel operasional.
Pihak pengelola pusat secara mengejutkan justru menunjuk korporasi besar asal Jakarta untuk mengambil alih seluruh kendali operasional di lapangan. Keputusan mendadak ini bak petir di siang bolong bagi tim lokal yang telah menghabiskan energi, waktu, dan materi untuk mengurus segala administrasi hingga ke Ibu Kota.
“Kami yang babat alas, kami yang mengurus administrasi ke pusat, tapi begitu proyek jadi, pengusaha Jakarta yang panen hasil. Ini tidak adil bagi pengusaha daerah,” keluh salah satu tim lokal yang enggan disebutkan namanya.
Ancaman Proyek Mangkrak dan Kekecewaan Warga
Dampak dari rebutan kue proyek ini, masyarakat Wakorumba Utara lah yang paling dirugikan. Program yang awalnya membawa angin segar untuk pemenuhan gizi anak-anak dan masyarakat rentan di Buton Utara, kini berubah menjadi ketidakpastian.
Warga kini hanya bisa menatap nanar bangunan kosong tersebut, khawatir fasilitas bernilai besar itu akan berakhir menjadi bangunan mangkrak yang tak berguna.
Poin-Poin Krusial Sengkarut SPPG Buton Utara:
- Fisik Selesai: Bangunan dan fasilitas pendukung sudah siap 100% sejak akhir Februari 2026.
- Konflik Kemitraan: Pemutusan hubungan kerja sepihak terhadap pengusaha lokal Sultra.
- Sentralisasi Operasional: Pengelola pusat menunjuk pengusaha besar Jakarta secara mendadak.
- Nasib Warga: Menanti kepastian di tengah ketidakjelasan operasional program gizi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola pusat terkait alasan pembatalan mitra lokal tersebut. Publik Buton Utara kini menagih janji: Apakah Dapur Gizi ini didirikan untuk memberi makan warga yang membutuhkan, atau sekadar menjadi ajang perebutan profit para elite?
