Kendari-Sultra info.id

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini kerap mendapat sorotan miring di media sosial, mulai dari isu makanan sisa hingga tudingan program yang mubazir bagi anak sekolah. Namun, realitas berbeda ditemukan di akar rumput. Bagi kelompok masyarakat miskin, program ini bukan sekadar pemenuhan nutrisi, melainkan jembatan untuk mencicipi makanan sehat yang selama ini tak mampu mereka beli.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua DPC Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Kota Kendari, Herlina, SE., ME. Menurutnya, program andalan Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Astacita ini memiliki dampak yang sangat vital, khususnya bagi sasaran “3B” (Ibu Hamil/Bumil, Ibu Menyusui/Busui, serta Balita di bawah dua dan tiga tahun/Baduta-Batita).
”Banyak yang mengatakan MBG itu mubazir karena melihat ada makanan anak sekolah yang tersisa di media sosial. Tapi bagi kami yang turun langsung di lapangan, MBG ini sangat terasa manfaatnya untuk sasaran 3B, khususnya mereka yang ekonominya menengah ke bawah,” ujar Herlina kepada media, Rabu (17/6/2026).
Herlina menambahkan, program ini secara langsung meningkatkan kualitas hidup warga miskin melalui variasi menu harian yang diberikan.

”Warga kurang mampu sebelumnya bahkan tidak tahu bagaimana rasanya buah-buahan seperti apel atau melon. Dengan adanya variasi menu MBG setiap hari, mereka akhirnya bisa mengonsumsi buah-buahan tersebut,” terangnya penuh haru.
Militansi Kader KB: Ujung Tombak Pencegahan Stunting
Demi menyukseskan program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) yang bekerja sama melalui MoU dengan Badan Gizi Nasional (BGN), IPeKB Kota Kendari mengerahkan 34 penyuluh KB yang membawahi ribuan kader militan di tingkat kelurahan.
Para kader ini terbagi dalam beberapa unsur penting, yaitu:
- Institusi Masyarakat Perkotaan
- Pembina Keluarga Balita, Remaja, dan Lansia
- Usaha Peningkatan Keluarga Akseptor
- Tim Pendamping Keluarga (TPK)
TPK sendiri merupakan kolaborasi solid yang diisi oleh Kader KB, penggerak PKK, dan Tenaga Kesehatan (Nakes). Merekalah yang bergerak melakukan pendataan stunting dan memvalidasi minimal 300 orang sasaran 3B untuk setiap Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG). Data presisi inilah yang kemudian menjadi dasar pendistribusian MBG agar tepat sasaran.
Mengejar Target Generasi Emas 2045
Herlina menekankan bahwa perang melawan stunting tidak bisa ditunda. Gizi buruk harus dicegah sejak dini, bahkan sejak hari pertama kehamilan.
”Generasi Emas Indonesia 2045 hanya bisa terwujud apabila stunting tercegah. Dan pencegahan itu harus dimulai sejak dini, sejak pertemuan antara sperma dan ovum (usia 0 kehamilan) pada ibu hamil, berlanjut ke ibu menyusui, hingga masa kritis pertumbuhan baduta dan batita,” jelasnya.
Hingga saat ini, IPeKB Kota Kendari memastikan kualitas dan keamanan pangan MBG di wilayahnya terjaga dengan sangat baik. “Sampai sekarang, di wilayah yang kami tangani, belum kami temukan kasus keracunan MBG, bahkan untuk satu orang pun. Semoga jangan pernah ada,” pungkas Herlina.
Ia berharap program MBG ini terus berlanjut dan semakin diperkuat, karena bagi ibu hamil dan balita di garis kemiskinan, sepiring makanan bergizi gratis adalah harapan bagi masa depan anak-anak mereka.
