Kendari-Sultrainfo.id

Wajah ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) di awal tahun 2026 tampak semakin bertenaga. Tidak hanya mengandalkan sektor sumber daya alam, geliat masyarakat dalam mengelola uang kini beralih ke sektor jasa keuangan dan pasar modal yang mencatatkan pertumbuhan eksponensial.
Dalam forum Bincang Jasa Keuangan (BIJAK) yang digelar Kamis (5/3), Kepala OJK Provinsi Sultra, Bismi Maulana Nugraha, membedah rapor hijau kinerja keuangan Bumi Anoa. Sektor perbankan tampil sebagai tulang punggung dengan kondisi yang sangat ekspansif.
Rapor Hijau Perbankan: Kredit UMKM Jadi Primadona
Hingga Januari 2026, total aset perbankan di Sultra menyentuh angka fantastis Rp61,43 triliun. Pertumbuhan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan kepercayaan masyarakat yang meningkat.

”Aset perbankan tumbuh 6,5% secara tahunan. Ini didorong oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp33,64 triliun dan penyaluran kredit yang mencapai Rp42,59 triliun,” urai Bismi di hadapan Satgas PASTI dan awak media.
Menariknya, perbankan Sultra tidak hanya memberikan pinjaman kepada korporasi besar. Sektor UMKM mendapatkan porsi kue yang signifikan, yakni Rp15,27 triliun (35,29% dari total kredit). Hal ini menandakan mesin ekonomi rakyat di level akar rumput sedang bergerak cepat.
Demam Pasar Modal: Investor Muda Mulai Dominasi
Kejutan terbesar datang dari sektor pasar modal. Masyarakat Sultra tampaknya mulai “melek” investasi saham dan reksa dana. Data menunjukkan lonjakan transaksi saham yang sangat tajam, mencapai Rp608,11 miliar pada Desember 2025—meroket 155,89% dibanding tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan transaksi saham yang mencapai 60,39% menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak lagi sekadar menabung secara konvensional, tapi sudah mulai berani masuk ke instrumen investasi yang lebih produktif,” tambah Bismi.
Benteng Pertahanan: NPL Rendah & Literasi Digital
Meski ekspansi kredit melaju kencang, OJK memastikan keamanan industri keuangan tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level aman 2,10%, jauh di bawah ambang batas bahaya (5%).
Namun, Bismi mengingatkan bahwa pertumbuhan ini harus dibarengi dengan kewaspadaan. Seiring meningkatnya inklusi, tantangan berupa investasi bodong dan pinjaman online (pinjol) ilegal juga mengintai.
Fokus Utama OJK Sultra ke Depan:
- Penguatan Satgas PASTI: Memberantas modus penipuan investasi digital.
- Edukasi Masif: Memastikan masyarakat paham risiko sebelum membeli produk keuangan.
- Perlindungan Konsumen: Mengoptimalkan layanan pengaduan untuk menjaga kepercayaan publik.
Dengan literasi yang kuat, OJK optimis Sulawesi Tenggara akan bertransformasi menjadi daerah dengan ketahanan ekonomi yang tangguh, di mana masyarakatnya mampu mengelola kekayaan secara bijak dan aman.
