LOMBOK TIMUR-Sultrainfo.id

Perjuangan antara hidup dan mati dialami oleh Nur Aisyah, seorang pendaki perempuan asal Malaysia. Ia harus bertahan semalaman di dinginnya ketinggian Gunung Rinjani setelah mengalami cedera serius akibat terjatuh saat turun dari puncak menuju Pelawangan Dua Sembalun, Lombok Timur, pada Senin (25/5/2026).
Proses evakuasi yang menegangkan sempat terhambat oleh faktor cuaca. Helikopter milik PT SGI Air Bali yang dikerahkan untuk melakukan evakuasi udara pada hari Senin terpaksa membatalkan misinya karena kabut tebal yang mendadak menyelimuti kawasan gunung setinggi 3.726 mdpl tersebut. Kondisi visibilitas yang buruk membuat pendaratan terlalu berisiko, memaksa korban dan tim penyelamat di darat untuk bertahan di tengah cuaca ekstrem semalaman.
Operasi Kilat 30 Detik Tim SAR Gabungan
Secercah harapan muncul pada Selasa pagi (26/5/2026). Memanfaatkan jendela cuaca yang mulai cerah, Tim SAR gabungan bergerak cepat. Tepat pukul 08.17 WITA, helikopter penyelamat kembali mendarat di area Pelawangan Sembalun.
Dalam video yang dirilis, proses pemindahan Nur Aisyah berlangsung sangat dramatis dan penuh perhitungan. Mengingat medan yang ekstrem dan keterbatasan waktu cuaca, Tim BASARNAS dan kru heli melakukan aksi cepat yang dijuluki “SAR 30 Detik” untuk menaikkan korban ke dalam heli sebelum cuaca kembali memburuk.
“Kondisi medan dan cuaca di Rinjani sangat dinamis. Begitu ada celah cuaca bersih, tim langsung bergerak taktis demi keselamatan korban,” tulis laporan tim Quick Action BASARNAS.
Penerbangan Darurat Menuju Bali
Setelah berhasil dievakuasi dari gunung, helikopter langsung menerbangkan Nur Aisyah melintasi selat menuju Provinsi Bali untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih komprehensif.
Pada pukul 09.05 WITA, helikopter berhasil mendarat dengan selamat di kawasan Benoa, Denpasar. Tanpa membuang waktu, korban yang berada di atas tandu langsung dipindahkan ke ambulans yang sudah siaga dan dirujuk ke Rumah Sakit Inmedika Sanur untuk menjalani perawatan intensif atas cedera yang dialaminya.
Keberhasilan evakuasi ini menjadi bukti kesiapsiagaan dan profesionalisme Tim SAR gabungan dalam menghadapi situasi darurat di salah satu jalur pendakian paling ekstrem di Indonesia.
