Kendari-Sultrainfo.id

Memasuki tahun akademik 2026/2027, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Enam Enam Kendari bergerak cepat dalam memperluas jangkauan edukasi. Tidak sekadar sosialisasi rutin, kampus pencetak wirausaha ini membawa misi besar: Demokratisasi pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat di Sulawesi Tenggara.

​Langkah ini mendapat “lampu hijau” penuh dari Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra. Berdasarkan surat rekomendasi resmi per 12 Februari 2026, STIE Enam Enam diberikan akses untuk menyambangi SMAN/SMAS se-Sultra guna memberikan panduan karier dan pendidikan bagi para siswa kelas XII tanpa mengganggu jam pelajaran.

Inovasi Jalur RPL: Pengalaman Kerja Jadi Kredit Kuliah

​Salah satu poin krusial yang menjadi primadona dalam sosialisasi tahun ini adalah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini dirancang khusus bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja namun ingin meraih gelar S1 atau S2 secara lebih efisien.

​”Kami memahami bahwa banyak praktisi di luar sana yang memiliki keahlian mumpuni. Melalui jalur RPL, pengalaman kerja tersebut diakui sebagai SKS, sehingga masa studi bisa lebih singkat tanpa mengurangi kualitas kompetensi,” ungkap La Ode Almana, SE., ME, Ketua Program Studi Manajemen S1.

Ekspansi Lintas Sektor & Skema Apresiasi

​STIE Enam Enam tidak hanya terpaku pada bangku sekolah. Strategi jemput bola juga dilakukan ke instansi pemerintah dan sektor layanan publik. Hal ini bertujuan untuk merangkul para ASN dan karyawan swasta yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikan ke jenjang Magister (S2).

​Sebagai bentuk dukungan nyata, pihak kampus menyiapkan Voucher Apresiasi Pendaftaran yang cukup menggiurkan:

  • Rp250.000 untuk calon mahasiswa baru program Sarjana (S1).
  • Rp500.000 untuk calon mahasiswa baru program Pascasarjana (S2).

Menyiapkan Masa Depan yang Terarah

​Melalui sosialisasi masif ini, STIE Enam Enam Kendari ingin memastikan bahwa setiap calon mahasiswa memiliki “peta jalan” yang jelas sebelum memasuki dunia kampus. Dengan kurikulum yang adaptif dan jaringan mitra yang luas, lulusan diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja.

​Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, ini adalah momentum tepat untuk meng-upgrade diri. Kampus kini bukan lagi sekadar tempat belajar teori, melainkan jembatan menuju karier profesional yang lebih matang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *