KONAWE SELATAN-Sultrainfo.id

Riuh gema takbir yang mengangkasa di Lapangan Sorumba, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, berganti menjadi keheningan yang khusyuk saat khotbah sholat Iduladha 1447 Hijriah dikumandangkan. Ribuan jemaah yang memadati lapangan tidak hanya diajak merenungkan esensi ibadah kurban, tetapi juga dihanyutkan dalam ruang refleksi yang menyentuh sanubari: kerinduan pada sosok ibu di kampung halaman.

​Dalam pelaksanaan sholat Iduladha tahun ini, panitia mengangkat judul khotbah yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu “Refleksi Sholat Iduladha dan Kerinduan Ibu di Kampung Halaman”, khotbah idul adha yang dibawakan oleh Ustad Muhammad Erwin, SE., LC.

​Khotbah tersebut berhasil menjembatani dua makna besar. Pertama, meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Kedua, menarik benang merah bahwa keikhlasan dan pengorbanan terbesar yang bisa disaksikan manusia di dunia ini sering kali mewujud dalam sosok seorang ibu.

​”Iduladha adalah momentum pulang—baik pulang menuju ketaatan kepada Sang Pencipta, maupun pulang secara batin memeluk kembali doa-doa ibu yang merajut keselamatan kita di perantauan,” ungkap sang khatib di atas mimbar yang disambut isak haru beberapa jemaah.

​Bagi masyarakat Ranomeeto dan sekitarnya, tema ini dirasa sangat mendalam. Banyaknya warga yang belum sempat mudik atau berkumpul dengan keluarga inti menjadikan momen sholat Id di Lapangan Sorumba sebagai pengobat rindu, sekaligus pengingat untuk tidak melupakan berbakti kepada orang tua, sekecil apa pun jarak yang memisahkan.

​Suasana sakral begitu terasa hingga akhir pelaksanaan ibadah. Di bawah langit Konawe Selatan yang cerah, kegiatan sholat Iduladha 1447 H ini tidak hanya sukses menyatukan warga dalam bingkai ibadah, tetapi juga berhasil mengetuk kesadaran spiritual dan sosial: bahwa menjaga hubungan dengan Allah (Hablum minallah) harus berjalan selaras dengan memuliakan orang tua (Hablum minannas).

Momentum idul adha ini adalah ada kerinduan ayah dan ibunya dikampung, jangan biarkan kesedihan orang tua kita dikampung akan rindunya kepada anak-anaknya yang jauh diperantauan, buat apa kesuksesan anak didunia namun tidak bisa mendatangi orang tuanya dikampung karena belum tentu lebaran idul adha tahun ini, orang tuanya kita masih bisa ketemu. Kebahahagian orang tua itu kalau ketemu anaknya di momentum lebaran. Sehebat dan kesuksesan apapun kita, coba ingat yang paling berjasa dihidup kita yakni orang tua kita. Kalau ada/masih hidup orang tua kita, pulanglah ketemu orang tua kita di lebaran ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *