MORAMO UTARA-Sultrainfo.id

Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah yang seharusnya penuh khidmat dan kehangatan keluarga, berubah menjadi mimpi buruk bagi warga Kelurahan Lalowaru, Kecamatan Moramo Utara, Konawe Selatan (Konsel). Sejak sehari sebelum bedug takbiran menggema hingga hari ini, Kamis (28/5), pemukiman warga justru “dikepung” oleh jutaan lalat yang datang menyerbu tanpa diundang.
Bukan sekadar hinggap di pelataran, kawanan serangga pembawa bakteri ini telah menginvasi ruang tamu, kamar tidur, hingga meja makan. Kondisi ini memicu keresahan massal karena mengancam kesehatan warga secara langsung.
Hidangan Hari Raya yang Terancam Higienitasnya
Bagi masyarakat Lalowaru, momen Lebaran kali ini terasa begitu menyiksa. Daeng, salah seorang warga setempat, menceritakan bagaimana suasana makan bersama keluarga yang biasanya hangat kini berubah menjadi ajang “perang” mengusir lalat.
”Sangat resah kami di sini. Lalatnya banyak sekali, sampai-sampai mau makan saja susah karena harus terus-terusan mengusir lalat. Kejadiannya ini pas satu hari sebelum Lebaran Iduladha kemarin, tiba-tiba lalat langsung banyak sekali masuk ke rumah,” keluh Daeng dengan nada masygul.
Keluhan serupa juga menggema dari sudut-sudut kampung lainnya. Aktivitas domestik warga, terutama yang berkaitan dengan penyajian makanan, praktis lumpuh dan dipenuhi rasa waswas.
Tudingan Mengarah ke Bisnis Ayam Potong: Efek Domino Kelola Limbah yang Buruk
Ledakan populasi lalat yang tidak wajar ini diduga kuat bukan fenomena alam biasa, melainkan akibat dari aktivitas manusia. Warga menunjuk hidung sebuah usaha peternakan ayam potong yang beroperasi di tengah-tengah kawasan pemukiman mereka sebagai biang keladi.
Ode, warga Lalowaru lainnya, mengonfirmasi dugaan tersebut. Menurutnya, ledakan hama ini adalah buah dari buruknya tata kelola sanitasi dan limbah kotoran di kandang ayam komersial tersebut.
Berikut adalah poin-poin krusial yang dikhawatirkan warga jika kondisi ini terus dibiarkan:
- Penyebaran Penyakit Akut: Lalat adalah vektor utama penyakit saluran pencernaan. Warga mencemaskan ledakan kasus diare, muntaber, hingga tifus, terutama pada anak-anak dan balita.
- Kerugian Psikologis: Kehilangan kenyamanan di rumah sendiri dan rasa malu saat menjamu tamu di momen hari raya.
- Pencemaran Lingkungan Lingkungan jangka panjang: Bau menyengat dan akumulasi limbah yang berpotensi mencemari air tanah.
”Kami menduga ini gara-gara peternakan ayam potong di dekat sini. Kemungkinan karena masalah kebersihan kandang atau kotorannya yang tidak dikelola dengan baik. Kalau dibiarkan terus, kami khawatir anak-anak di sini bisa kena penyakit. Harus ada tindakan tegas!” tuntut Ode.
Menanti Ketegasan Pemerintah dan Dinas Terkait
Hingga berita ini dirilis, “teror sayap hitam” tersebut masih membayangi langit Lalowaru. Warga kini tidak lagi sekadar mengeluh, mereka menuntut aksi nyata.
Masyarakat mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Konawe Selatan untuk segera turun gunung. Warga meminta adanya:
- Inspeksi mendadak (Sidak) kelayakan amdal dan izin operasional peternakan.
- Langkah sanitasi cepat (seperti fogging atau penyemprotan disinfektan massal) untuk memutus siklus hidup lalat.
- Sanksi tegas atau relokasi jika peternakan terbukti melanggar aturan zonasi pemukiman.
Dilema antara roda ekonomi peternakan dan hak hidup sehat warga kini berada di tangan pemerintah daerah. Jika lambat dimitigasi, Lalowaru tidak hanya kehilangan kekhusyukan hari raya, tetapi juga diambang krisis kesehatan masyarakat.
