Kendari-Sultrainfo.id

Pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Partai NasDem Sulawesi Tenggara (Sultra) yang sejatinya menjadi panggung konsolidasi total, justru berubah menjadi panggung drama politik internal. Sorotan tajam tertuju pada sosok La Ode Tariala, kader senior NasDem yang saat ini masih menjabat secara sah sebagai Ketua DPRD Sultra.​

Pemandangan kontras tersaji di ruang utama acara. Sebagai figur yang masuk dalam unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), posisi Tariala secara protokoler ketatanegaraan sejajar dengan tokoh-tokoh penting yang hadir, termasuk Andi Sumangerukka. Namun di forum partainya sendiri, Tariala justru terlempar dari jajaran kursi kehormatan depan dan harus berbaur di deretan kursi belakang bersama peserta biasa.

​Perlakuan ini sontak memicu kasak-kusuk dan ketegangan di lokasi acara. Suasana sempat memanas ketika beberapa peserta secara terang-terangan meneriakkan kalimat provokatif, menyebut Tariala sebagai “Ketua DPRD palsu.

“​Akar Konflik: Rekomendasi yang Menggantung

Dinamika yang kasat mata ini diduga kuat merupakan imbas dari bara sekam internal terkait suksesi kepemimpinan di parlemen Sultra. Diketahui, DPW NasDem Sultra sebelumnya telah mengeluarkan rekomendasi untuk mencopot Tariala dan mengusulkan Syahrul Said sebagai Ketua DPRD yang baru.​

Namun, politik tidak selembar kertas di atas meja partai. Hingga saat ini, proses pergantian tersebut masih mandek di jalur administratif dan konstitusional. Secara hukum tata negara, La Ode Tariala tetaplah Ketua DPRD Sultra yang sah dan memegang palu sidang di parlemen.​

Ketidaksinkronan antara ambisi politik partai dan realitas hukum inilah yang dinilai banyak pihak memicu disharmoni akut, yang kemudian terdistribusi secara visual dalam penataan kursi di Rakerwil tersebut.​

Sikap Tenang di Tengah Badai​

Menghadapi “pengucilan” protokoler dan intimidasi verbal dari rekan separtainya, La Ode Tariala memilih jalan sunyi yang elegan. Alih-alih tersulut emosi, ia merespons situasi tersebut dengan kepala dingin dan kedewasaan berpolitik.​

“Saya hadir di sini murni sebagai kader, dan saya tetap tunduk pada keputusan partai,” ujar Tariala dengan nada tenang.​

Bagi Tariala, berpartai bukanlah panggung untuk memperebutkan privilese tempat duduk atau jabatan semata, melainkan sebuah komitmen kolektif demi membesarkan organisasi. Ia menegaskan akan tetap menghormati seluruh proses legal yang sedang berjalan sembari terus menjaga marwah NasDem di ruang publik.​

Hingga berita ini diturunkan, riak politik di internal NasDem Sultra ini masih menyisakan tanda tanya. Sekretaris DPW NasDem Sultra, Tahir La Kimi, yang berusaha dikonfirmasi mengenai insiden dan dinamika penataan posisi kader tersebut, masih memilih untuk bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *