ISTANBUL-Sultrainfo.id

Kabar melegakan datang dari Turki. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam delegasi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan telah tiba di Istanbul dengan selamat dan dalam kondisi sehat.

​Kehadiran mereka di Istanbul menandai akhir dari ketegangan panjang setelah gelombang intimidasi yang mereka hadapi di perairan internasional. Meski sempat mengalami tindakan kekerasan fisik, intimidasi psikologis, hingga penculikan oleh pihak otoritas yang menghadang misi tersebut, nyali para relawan dan jurnalis tanah air ini sama sekali tidak ciut.

​”Semangat kemanusiaan dan solidaritas mereka untuk Palestina tetap teguh. Luka fisik tidak melunturkan keyakinan mereka untuk menyuarakan keadilan,” ungkap salah satu perwakilan lembaga kemanusiaan.

Daftar Manifest Relawan dan Jurnalis Indonesia

​Sembilan putra terbaik bangsa ini tersebar di beberapa kapal logistik bantuan. Mereka adalah saksi mata sekaligus aktor kemanusiaan yang berdiri di garis depan:

  • Kapal Zapyro: Herman Budianto Sudarsono & Ronggo Wirasanu (GPCI – Dompet Dhuafa)
  • Kapal Josef: Andi Angga Prasadewa (GPCI – Rumah Zakat)
  • Kapal Kasr-1: Asad Aras Muhammad (GPCI – Spirit of Aqso) & Hendro Prasetyo (GPCI – SMART 171)
  • Kapal BoraLize: Bambang Noroyono (Jurnalis Republika)
  • Kapal Ozgurluk: Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis Republika), Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo), & Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews)

Apresiasi untuk Diplomasi dan Pengawalan Ketat

​Keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari kerja keras berbagai pihak, termasuk diplomasi intensif dan pengawalan ketat dari perwakilan pemerintah RI di luar negeri serta jaringan kemanusiaan internasional. Saat ini, fokus utama adalah memastikan pemulihan fisik dan psikologis para delegasi sebelum proses pemulangan (repatriasi) ke tanah air dilakukan dalam waktu dekat.

​Tragedi yang menimpa Flotilla 2.0 justru menjadi bukti nyata kepada dunia bahwa blokade dan kekerasan tidak akan pernah bisa membungkam kepedulian antarbangsa. Bagi Indonesia, misi ini adalah bagian dari amanah konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *