Kendari-Sultrainfo.id

Kota Kendari tidak hanya merayakan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), namun mengukir sejarah baru. Dalam sebuah demonstrasi kekuatan dan komitmen massal, ribuan perempuan dari berbagai penjuru kota membentuk barisan terpanjang se-Indonesia yang pernah tercatat dalam kampanye ini,(6/2/2025).
Acara yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM., di pelataran Balai Kota ini, bertransformasi dari sekadar jalan santai menjadi deklarasi publik yang monumental, menegaskan bahwa perlawanan terhadap kekerasan berbasis gender adalah agenda kolektif yang tak bisa ditawar.

Pesan Mendalam di Balik Rekor Terpanjang
Antusiasme yang tumpah ruah sejak pagi bukan hanya menandai partisipasi, tetapi mencerminkan tekad masyarakat Kendari untuk menghentikan siklus kekerasan. Wali Kota Siska Karina Imran, dalam sambutannya, membawa narasi peringatan global ini ke tingkat personal dan struktural.
Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada “seluruh perempuan tangguh yang hadir,” sekaligus mengingatkan bahwa momentum HAKTP harus menjadi pemicu nyata untuk memperkuat perlindungan.
“Kekompakan perempuan adalah kunci utama dalam menciptakan kota yang aman dan ramah bagi semua,” tegas Wali Kota Siska. “Kita harus saling menyayangi, saling melindungi, dan bersama-sama memberantas kekerasan terhadap perempuan di Kota Kendari.”
Lebih dari Sekadar Tangguh: Seruan Emansipasi dan Solidaritas
Berbeda dari pidato seremonial biasa, Wali Kota Siska menyoroti sebuah tantangan internal yang kerap melumpuhkan perjuangan bersama: disharmoni antarperempuan.
Ia dengan tajam menyinggung konflik yang muncul di ranah domestik, seperti isu perselingkuhan, yang justru membuat perempuan saling menyakiti. Ini adalah poin mendalam yang menuntut refleksi. Siska menyerukan agar solidaritas menjadi benteng, bukan perpecahan.
“Perempuan tidak boleh merasa kalah atau lemah dibandingkan laki-laki. Setiap perempuan memiliki kekuatan tersendiri yang perlu dihargai dan diperkuat melalui kebersamaan,” ujar Siska, menegaskan pentingnya pemberdayaan agar perempuan menjadi lebih hebat dan berani.
Melalui pemecahan rekor barisan terpanjang ini, Kota Kendari mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa perlawanan terhadap kekerasan tidak hanya dilakukan di ruang seminar atau meja advokasi, tetapi di jalanan, dengan langkah kaki yang kompak, dan dengan suara lantang yang menuntut keadilan.
