Krisis Obat Menahun di ‘RS Bintang Lima’ Konawe: Mekanisme ‘Ganti Rugi’ Jadi Pil Pahit Baru bagi Pasien
Konawe-Sultrainfo.id

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Konawe, yang pernah dibanggakan sebagai ‘RS Bintang Lima’ setelah diresmikan oleh Presiden, kini terperosok dalam krisis utang yang melumpuhkan pelayanan dasar: kekosongan obat yang kritis dan menahun.
Persoalan yang sudah berlangsung sejak era Covid-19 ini telah menumpuk utang rumah sakit hingga mencapai lebih dari Rp 2 miliar. Tumpukan utang ini secara brutal memutus suplai obat, karena supplier lama menolak mengirim barang sebelum tagihan dilunasi.
Jeritan Keluarga Pasien: “Bagaimana Kalau Pasien Koma?”
Kekecawaan mendalam diungkapkan oleh keluarga pasien, salah satunya ANDRI, yang mempertanyakan prioritas manajemen RSUD. Ia menyoroti situasi darurat, di mana pencarian obat vital di luar rumah sakit dapat mengancam nyawa pasien.
”Bagaimana kalau seandainya pasien yang sudah berstatus koma, sementara masih proses pencarian obat? Hal ini harus segera disikapi oleh Direktur rumah sakit, Dokter Romi, dan Bupati Konawe tidak boleh tutup telinga,” tegas Andri, menggambarkan kegentingan yang dihadapi pasien.
Solusi ‘Reimbursement’ yang Kontroversial
Direktur RSUD Konawe, Dokter Romi, melalui Humas BLUD RS Konawe, mengakui parahnya masalah ini. Ia membenarkan utang mencapai lebih dari Rp 2 miliar sebagai penghalang utama suplai.
Sebagai solusi sementara, pihak RSUD menerapkan mekanisme reimbursement (ganti rugi). Pasien atau keluarga yang terpaksa membeli obat sendiri di luar—bahkan hingga ke luar kabupaten—diminta menyimpan bukti pembelian untuk kemudian diganti biayanya. Mekanisme ini disebut telah berjalan sejak April dan dikoordinasikan dengan BPJS.
Namun, bagi keluarga pasien, solusi ini dinilai sebagai pil pahit yang tidak menolong saat kritis.
- Beban Finansial Awal: Keluarga pasien harus menanggung biaya pembelian obat di awal, yang bisa jadi memberatkan, terutama untuk obat-obatan mahal.
- Risiko Keterlambatan: Proses pembelian obat di luar RS dan proses klaim reimbursement membutuhkan waktu, berisiko menunda penanganan medis yang seharusnya cepat.
- Logistik dan Jarak: Kekosongan memaksa pasien mencari obat hingga ke luar Konawe, menambah beban logistik dan waktu tempuh yang sangat berharga dalam situasi darurat.
Akar Masalah: Lilitan Utang dan Janji Supplier Baru
Humas RSUD Konawe, dr. Abdi, membenarkan bahwa perusahaan farmasi tegas menolak memasok obat tanpa pelunasan. Sementara itu, Dokter Romi menyebut upaya penggantian supplier sedang dilakukan, namun terhambat karena banyak supplier baru berasal dari luar daerah dan memerlukan proses logistik yang lebih panjang.
Meskipun laporan krisis ini telah disampaikan kepada Pemerintah Daerah, DPRD, dan Bupati, pihak RSUD masih terganjal oleh kendala anggaran. Pelunasan utang yang menjadi kunci utama pemulihan suplai obat belum menemukan titik terang, meninggalkan ribuan pasien dalam ketidakpastian layanan di ‘RS Bintang Lima’ yang kini terancam kehilangan cahayanya.
