Kongres XXXIII Harus Menentukan Arah, Bukan Sekadar Menentukan Siapa yang Berkuasa

Oleh: Muh Gilang Anugrah
Calon Kandidat Ketua Umum PB HMI 2026–2028 | Cabang Kendari

LAMPUNG — Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali menjadi perhatian kader di berbagai penjuru Indonesia. Kongres XXXIII bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan. Di tengah berbagai persoalan bangsa, kongres semestinya menjadi ruang untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih fundamental: HMI hendak dibawa ke mana?

Pertanyaan itu penting karena organisasi sebesar HMI selalu menghadapi godaan yang sama dalam setiap momentum politik internal: apakah kekuasaan organisasi akan digunakan sebagai instrumen perjuangan, atau justru perjuangan dijadikan alasan untuk mendapatkan kekuasaan?

Di sinilah kita perlu berani bertanya:

HMI untuk bangsa atau HMI untuk kepentingan gerbong?

Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman. Tetapi organisasi yang kehilangan keberanian untuk bertanya pada dirinya sendiri sesungguhnya sedang kehilangan tradisi intelektualnya.

Jangan Sampai Kongres Hanya Menjadi Sirkulasi Kekuasaan

Kongres adalah konsekuensi demokrasi organisasi. Ada kandidat, ada pendukung, ada perbedaan pilihan, ada konsolidasi, dan ada kompetisi.

Semua itu sah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seluruh energi kader habis untuk menghitung jumlah suara, sementara gagasan tentang masa depan HMI justru menjadi nomor sekian.

Kita terlalu sering terjebak dalam pertanyaan:

“Siapa yang menang?”

Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Setelah menang, HMI mau diapakan?”

Jika kongres hanya menghasilkan pergantian orang tanpa perubahan orientasi, maka kita sebenarnya hanya melakukan sirkulasi kekuasaan, bukan regenerasi perjuangan.

Jangan sampai setelah palu kongres diketuk, yang berubah hanya nama Ketua Umum, sementara persoalan mendasar organisasi tetap sama.

Gerbong Boleh Ada, Tetapi HMI Jangan Menjadi Milik Gerbong

Saya tidak alergi terhadap gerbong.

Dalam demokrasi, konsolidasi adalah sesuatu yang wajar. Setiap kandidat memiliki hak untuk membangun komunikasi dan memperoleh dukungan.

Namun ada garis yang tidak boleh dilewati.

Gerbong adalah alat untuk memenangkan gagasan, bukan tujuan dari perjuangan.

Ketika gerbong menjadi lebih penting daripada HMI, ketika kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan organisasi, ketika loyalitas kepada orang lebih tinggi daripada loyalitas kepada nilai perjuangan, maka kita harus berhenti sejenak dan melakukan koreksi.

HMI tidak boleh menjadi organisasi yang hanya kuat dalam politik internal tetapi lemah dalam menjawab persoalan eksternal.

Kita tidak boleh menjadi organisasi yang sangat sibuk membicarakan siapa mendapatkan posisi, tetapi gagap ketika masyarakat bertanya tentang solusi atas persoalan bangsa.

Bangsa Tidak Menunggu HMI Selesai Bertengkar

Indonesia tidak sedang menunggu kita menyelesaikan konflik internal.

Masyarakat sedang menghadapi berbagai persoalan: pendidikan yang belum merata, kesenjangan ekonomi, pengangguran, korupsi, krisis lingkungan, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, hingga tantangan demokrasi dan kualitas sumber daya manusia.

Pertanyaannya:

Di mana posisi HMI terhadap semua persoalan itu?

Apakah HMI hanya hadir ketika ada momentum politik?

Apakah suara HMI hanya terdengar ketika kongres berlangsung?

Atau HMI mampu menjadi kekuatan intelektual yang memberikan gagasan dan solusi?

Kita membutuhkan HMI yang hadir di tengah persoalan bangsa, bukan HMI yang hanya sibuk menyelesaikan persoalan internalnya sendiri.

Jangan Jadikan Idealisme Sebagai Komoditas Politik

Ada satu hal yang harus kita waspadai bersama: penggunaan idealisme sebagai komoditas politik.

Kita bisa berbicara tentang keumatan.

Kita bisa berbicara tentang kebangsaan.

Kita bisa berbicara tentang independensi.

Kita bisa berbicara tentang kaderisasi.

Tetapi semuanya kehilangan makna apabila hanya digunakan sebagai slogan untuk memenangkan pertarungan.

Nilai perjuangan tidak boleh menjadi alat legitimasi bagi kepentingan kekuasaan.

Sebaliknya, kekuasaan organisasi harus tunduk kepada nilai perjuangan.

Inilah yang harus menjadi pembeda antara kepemimpinan yang sekadar populer dan kepemimpinan yang memiliki arah.

HMI Membutuhkan Kepemimpinan yang Berani Keluar dari Zona Nyaman

Saya percaya HMI tidak kekurangan kader potensial.

Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk membawa organisasi keluar dari pola lama yang tidak lagi relevan.

HMI harus menjadi organisasi yang:

  • kuat secara intelektual;
  • modern dalam membaca perubahan zaman;
  • mandiri dalam menentukan sikap;
  • serius membangun kualitas kader;
  • hadir dalam persoalan masyarakat;
  • mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan umat dan bangsa;
  • serta memiliki keberanian mengambil posisi ketika kepentingan rakyat dipertaruhkan.

Kita harus menggeser orientasi dari “siapa mendapatkan apa” menjadi “apa yang dapat kita berikan.”

Dari politik transaksional menuju politik gagasan.

Dari perebutan posisi menuju perebutan prestasi.

Dari membangun gerbong menuju membangun gerakan.

HMI PROGRESIF: Bukan Sekadar Tagline

Atas dasar itulah saya membawa gagasan HMI PROGRESIF.

Progresif bukan berarti meninggalkan identitas HMI.

Progresif justru berarti menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan HMI dengan menjawab tantangan zaman.

Kita harus berani membangun HMI yang tidak hanya membaca sejarah, tetapi mampu menciptakan sejarah.

HMI harus melahirkan kader yang tidak hanya pandai berdebat di forum, tetapi mampu bekerja dan memberikan dampak.

Kader yang tidak hanya mengejar jabatan, tetapi siap memikul tanggung jawab.

Kader yang tidak hanya berbicara tentang bangsa, tetapi benar-benar bekerja untuk bangsa.

Saatnya Memilih Arah, Bukan Sekadar Memilih Orang

Kepada seluruh kader HMI yang akan menentukan pilihan dalam Kongres XXXIII, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat kongres dengan perspektif yang lebih besar.

Jangan hanya bertanya siapa yang memiliki gerbong terbesar.

Jangan hanya bertanya siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan.

Jangan hanya bertanya siapa yang paling kuat secara politik.

Tanyakan apa gagasannya.

Tanyakan apa rekam perjuangannya.

Tanyakan bagaimana ia akan membangun kaderisasi.

Tanyakan bagaimana HMI akan berkontribusi bagi masyarakat.

Tanyakan bagaimana HMI menghadapi perubahan zaman.

Dan yang paling penting:

Tanyakan apakah kepemimpinannya akan menjadikan HMI lebih dekat dengan cita-cita perjuangan atau justru semakin jauh karena kepentingan kelompok.

Sebab Ketua Umum PB HMI bukanlah ketua sebuah gerbong.

Ia adalah pemimpin sebuah organisasi yang memiliki sejarah, ideologi perjuangan, dan tanggung jawab kebangsaan.

HMI Harus Lebih Besar daripada Siapa Pun

Saya percaya HMI harus lebih besar daripada kandidat.

Lebih besar daripada cabang.

Lebih besar daripada kelompok.

Lebih besar daripada gerbong.

Dan bahkan lebih besar daripada kepentingan kita masing-masing.

Sebab ketika kita masuk ke dalam HMI, kita tidak sedang membangun monumen untuk diri sendiri.

Kita sedang melanjutkan sebuah perjuangan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya untuk generasi setelah kita.

Maka jangan wariskan HMI yang terpecah karena kepentingan sesaat.

Wariskan HMI yang kuat karena gagasan.

Wariskan HMI yang kritis karena intelektualitas.

Wariskan HMI yang berani karena independensi.

Wariskan HMI yang relevan karena mampu menjawab zaman.

Dan wariskan HMI yang dicintai masyarakat karena nyata manfaatnya.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya:

“Seberapa besar gerbongmu?”

Sejarah akan bertanya:

“Apa yang telah kau lakukan untuk HMI, umat, dan bangsa?”

Maka dari Kendari, Sulawesi Tenggara, saya membawa satu keyakinan:

HMI bukan milik gerbong.
HMI adalah milik perjuangan.

Dan perjuangan itu harus kembali kepada tujuan yang lebih besar:

umat, bangsa, dan Indonesia.

HMI PROGRESIF.

Muh Gilang Anugrah
Calon Kandidat Ketua Umum PB HMI 2026–2028
Cabang Kendari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *